LAPORAN LKM KARak'S
>> <<
Oleh : Fathur 'Onk' Ar Rahman - Sifat dermawan adalah sifat yang sangat terpuji lagi mulia. Cukup lah bagi kita untuk memahaminya, bahwa Allah swt telah menasbihkan diriNya dengan sifat "al-Karim", Yang Maha Dermawan.
Seorang yang dermawan akan ditutupi oleh Allah aib dan keburukannya. Bahkan kebaikan demi kabaikan akan diperolehnya. Fakta yang sering kita jumpai "Seorang dermawan, apabila engkau memujinya, maka semua orang akan ikut memujinya, namun apabila engkau mencelanya, akan kau dapati bahwa hanya engkau sendiri yang mencelanya".
Dermawan bisa terwujud dalam bentuk: uluran tangan untuk memberi sedekah, infak, zakat, dll. Derwaman merupakan cerminan rasa solidaritas kemanusiaan dari seorang hamba Allah Yang Maha Kasih kepada hamba lainnya yang memerlukan.
Tingkat tertinggi dari kedermawanan adalah "Iitsar", yaitu memberikan sesuatu kepada orang yang lebih memerlukan, padahal ia sendiri masih memerlukannya. Inilah yang digambarkan Allah swt dalah surat al Hashr ayat 9 dalam menceritakan kedemawanan kaum Anshar (penduduk Madinah) kepada kaum Muhajirin yang datang dari Makkah untuk berhijrah.
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”
Kedermawanan seseorang akan menunjukkan keberanian dalam dirinya, karena ia tidak merasa takut akan kehilangan apa yang ia berikan kepada orang lain. Kedermawanan juga mencerminkan iman yang kuat dan kokoh, karena ia yakin bahwa apa yang diberikannya kepada orang lain niscaya akan mendapatkan ganti dari Allah. Inilah apa yang telah dijanjikan oleh Al Qur'an:
"Dan apa yang kalian infakkan, maka Dia (Allah) pasti menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya" (Q.S. Saba' : 34). Dalam sebuah hadis Rasulullah juga bersabda "Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan dekat dengan sorga. Sedangkan orang bakhil dan kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dengan Neraka".
Kedermawan yang dianjurkan adalah yang disertai keikhlasan untuk membantu saudara yang memerlukan dan demi mencari keridlaan Allah. Inilah yang akan mendapatkan pahala berlipat ganda dari Allah swt.
"Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah, adalah sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir dan setiap butir membuahkan lagi 100 biji. Allah melipat gandakan (pahala) bagi siapa yang dikehendakiNya. Allah maha luas karuniaNya dan lagi maha mengetahui" (al-Baqarah:261).
Di bulan Ramadan ini, patut kita menggugah diri, dengan kacamata kedermawanan untuk menaruh perhatian kepada saudara-saudara kita yang kebetulan bernasib kurang baik. Saudara-saudara kita: yang kelaparan, yang sakit, yang putus sekolah, yang kehilangan pekerjaan dan yang terlunta-lunta di pengungsian..
Di bulan Ramadan ini, kita selayaknya juga meningkatkan rasa kedermawanan kita sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah. Kedermawanan beliau ketika memasuki bulan Ramadan diibaratkan melebihi kedermawanan hembusan angin yang membawa hujan, kesejukan dan kehidupan bagi alam semesta. (H.R. Muslim).
Kacepot ngangguy gule bheto... salah lopot kaule jhek bhesto
Seorang yang dermawan akan ditutupi oleh Allah aib dan keburukannya. Bahkan kebaikan demi kabaikan akan diperolehnya. Fakta yang sering kita jumpai "Seorang dermawan, apabila engkau memujinya, maka semua orang akan ikut memujinya, namun apabila engkau mencelanya, akan kau dapati bahwa hanya engkau sendiri yang mencelanya".
Dermawan bisa terwujud dalam bentuk: uluran tangan untuk memberi sedekah, infak, zakat, dll. Derwaman merupakan cerminan rasa solidaritas kemanusiaan dari seorang hamba Allah Yang Maha Kasih kepada hamba lainnya yang memerlukan.
Tingkat tertinggi dari kedermawanan adalah "Iitsar", yaitu memberikan sesuatu kepada orang yang lebih memerlukan, padahal ia sendiri masih memerlukannya. Inilah yang digambarkan Allah swt dalah surat al Hashr ayat 9 dalam menceritakan kedemawanan kaum Anshar (penduduk Madinah) kepada kaum Muhajirin yang datang dari Makkah untuk berhijrah.
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”
Kedermawanan seseorang akan menunjukkan keberanian dalam dirinya, karena ia tidak merasa takut akan kehilangan apa yang ia berikan kepada orang lain. Kedermawanan juga mencerminkan iman yang kuat dan kokoh, karena ia yakin bahwa apa yang diberikannya kepada orang lain niscaya akan mendapatkan ganti dari Allah. Inilah apa yang telah dijanjikan oleh Al Qur'an:
"Dan apa yang kalian infakkan, maka Dia (Allah) pasti menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya" (Q.S. Saba' : 34). Dalam sebuah hadis Rasulullah juga bersabda "Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan dekat dengan sorga. Sedangkan orang bakhil dan kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dengan Neraka".
Kedermawan yang dianjurkan adalah yang disertai keikhlasan untuk membantu saudara yang memerlukan dan demi mencari keridlaan Allah. Inilah yang akan mendapatkan pahala berlipat ganda dari Allah swt.
"Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah, adalah sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir dan setiap butir membuahkan lagi 100 biji. Allah melipat gandakan (pahala) bagi siapa yang dikehendakiNya. Allah maha luas karuniaNya dan lagi maha mengetahui" (al-Baqarah:261).
Di bulan Ramadan ini, patut kita menggugah diri, dengan kacamata kedermawanan untuk menaruh perhatian kepada saudara-saudara kita yang kebetulan bernasib kurang baik. Saudara-saudara kita: yang kelaparan, yang sakit, yang putus sekolah, yang kehilangan pekerjaan dan yang terlunta-lunta di pengungsian..
Di bulan Ramadan ini, kita selayaknya juga meningkatkan rasa kedermawanan kita sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah. Kedermawanan beliau ketika memasuki bulan Ramadan diibaratkan melebihi kedermawanan hembusan angin yang membawa hujan, kesejukan dan kehidupan bagi alam semesta. (H.R. Muslim).
Kacepot ngangguy gule bheto... salah lopot kaule jhek bhesto
Oleh : Mashudi, STP - Sejatinya, menjalankan ibadah tidak sekadar ritual. Ada maksud Tuhan di balik perintah-Nya melalui kitab suci. Ada aspek vertikal, ada pula aspek horizontalnya. Ada aspek teosentris (ketuhanan), ada pula aspek antroposentrisnya (kemanusiaan).
Termasuk dalam ibadah puasa. Dalam perintah Allah di surat Al Baqarah ayat 185, perintah puasa bertujuan untuk mencapai ketaqwaan. Sepintas kita memaknai ketaqwaan hanya bermuatan transendental. Namun jika diurai, nilai ketaqwaan tidak lepas dari relasi manusia dengan manusia lainnya.
Singkatnya, berpuasa dapat membentuk insan yang semakin dekat dengan
Tuhan, pun membentuk kesalehan sosial individu.
Bentuk empati yang kasat mata di balik perintah puasa adalah dengan merasakan kesusahan yang dirasakan si fakir dan si miskin, meski hanya dari terbit hingga terbenamnya sang surya.
Namun, empati tidak cukup hanya dengan sekadar merasakan yang dirasa si fakir dan si miskin. Jika demikian, kesalehan sosial kita belum terbentuk. Karenanya, ada tuntunan yang diajarkan Rasulullah dalam ibadah di bulan suci ini, selain ibadah yang sifatnya wajib.
Misal, memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa. “Barang siapa memberikan makanan berbuka kepada orang berpuasa, maka baginya pahala serupa yang diberikan kepada orang yang berpuasa. Hanya saja pahala orang yang puasa tidak berkurang sedikitpun.” Demikian kata Rasulullah diriwayatkan Tarmudzi.
Lalu, memperbanyak sedekah. Sabda Rasulullah, “Sebaik-baik sedekah adalah di bulan Ramadhan.”
Orang yang berpuasa juga diperintahkan membayar zakat fitrah. “Rasulullah SAW menetapkan zakat fitrah sebagai penyuci orang berpuasa dari perbuatan dan perkataan buruk serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majjah)
Rasa solidaritas, tepa selira, dan saling menghargai juga kerap dirasakan selama bulan suci ini. Ritual yang dilakukan serta kebiasaan di masyarakat, seperti berbuka puasa bersama, salat tarawih berjamaah, dan kebiasaan lainnya membuat relasi sosial antarmasyarakat kembali terjalin.
Semoga menjadi renungan kita semia.. amin..
Termasuk dalam ibadah puasa. Dalam perintah Allah di surat Al Baqarah ayat 185, perintah puasa bertujuan untuk mencapai ketaqwaan. Sepintas kita memaknai ketaqwaan hanya bermuatan transendental. Namun jika diurai, nilai ketaqwaan tidak lepas dari relasi manusia dengan manusia lainnya.
Singkatnya, berpuasa dapat membentuk insan yang semakin dekat dengan
Tuhan, pun membentuk kesalehan sosial individu.
Bentuk empati yang kasat mata di balik perintah puasa adalah dengan merasakan kesusahan yang dirasakan si fakir dan si miskin, meski hanya dari terbit hingga terbenamnya sang surya.
Namun, empati tidak cukup hanya dengan sekadar merasakan yang dirasa si fakir dan si miskin. Jika demikian, kesalehan sosial kita belum terbentuk. Karenanya, ada tuntunan yang diajarkan Rasulullah dalam ibadah di bulan suci ini, selain ibadah yang sifatnya wajib.
Misal, memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa. “Barang siapa memberikan makanan berbuka kepada orang berpuasa, maka baginya pahala serupa yang diberikan kepada orang yang berpuasa. Hanya saja pahala orang yang puasa tidak berkurang sedikitpun.” Demikian kata Rasulullah diriwayatkan Tarmudzi.
Lalu, memperbanyak sedekah. Sabda Rasulullah, “Sebaik-baik sedekah adalah di bulan Ramadhan.”
Orang yang berpuasa juga diperintahkan membayar zakat fitrah. “Rasulullah SAW menetapkan zakat fitrah sebagai penyuci orang berpuasa dari perbuatan dan perkataan buruk serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majjah)
Rasa solidaritas, tepa selira, dan saling menghargai juga kerap dirasakan selama bulan suci ini. Ritual yang dilakukan serta kebiasaan di masyarakat, seperti berbuka puasa bersama, salat tarawih berjamaah, dan kebiasaan lainnya membuat relasi sosial antarmasyarakat kembali terjalin.
Semoga menjadi renungan kita semia.. amin..
Oleh : Andre 'Gus' Setiawan - Banyak orang beranggapan bahwa kualitas ibadah hanya ditentukan oleh syarat, rukun, dan kekhusyukan dalam pelaksanaannya. Misalnya, shalat yang berkualitas adalah yang didahului oleh wudlu yang benar, suci pakaian dan tempatnya, serta khusyuk dalam melakukan setiap rukunnya. Demikian pula dengan ibadah-ibadah yang lain.......
Saad bin Abi Waqqash RA bertan...ya kepada Rasulullah SAW tentang rahasia agar ibadah dan doa-doanya cepat dikabulkan. Rasul SAW tidak mengajari Sa'ad tentang syarat, rukun, ataupun kekhusyukan. Rasul mengatakan, " Perbaikilah apa yang kamu makan, hai Sa'ad." (HR Thabrani).
Ada sindiran yang hendak disampaikan Rasulullah SAW lewat hadis di atas. Yaitu, bahwa kebanyakan manusia cenderung memperhatikan “kulit luar”, tapi lupa akan
hal-hal yang lebih urgen dan fundamental.
Setiap Muslim pasti mengetahui bahwa shalat atau haji mesti dilakukan dengan pakaian yang suci. Pakaian yang kotor akan menyebabkan ibadah tersebut tidak sah alias ditolak. Namun, betapa banyak di antara kaum Muslim yang lupa dan lalai bahwa makanan yang diperoleh dari cara-cara yang kotor juga akan berujung pada ditolaknya ibadah dan munajat kita.
Rasul SAW telah mengingatkan, " Demi Zat Yang menguasai diriku, jika seseorang mengonsumsi harta yang haram, maka tidak akan diterima amal ibadahnya selama 40 hari." (HR Thabrani).
Dalam hadis lain yang dinukil Ibnu Rajab al-Hanbali, Rasul SAW bersabda, "Barang siapa yang di dalam tubuhnya terdapat bagian yang tumbuh dari harta yang tidak halal, maka nerakalah tempat yang layak baginya."
Di sinilah terlihat dengan jelas, korelasi antara kualitas ibadah dan sumber penghasilan. Bahkan, karena ingin memastikan bahwa semua yang dikonsumsi berasal dari sumber yang halal, para Nabi dan Rasul menekuni suatu pekerjaan secara langsung untuk menghidupi diri dan keluarga mereka.
Nabi Daud adalah seorang pandai besi dan penjahit, Nabi Zakaria seorang tukang kayu, Rasulullah SAW adalah seorang pedagang, dan seterusnya. Demikian pula dengan para sahabat yang mulia; mayoritas kaum Muhajirin berprofesi sebagai pedagang, sementara kaum Anshar mengandalkan hidupnya dari pertanian.
Lebih dari itu, ketika seseorang bergelimang harta haram, dan ia menafkahi keluarganya dengan harta tersebut, sebenarnya ia tidak hanya menodai ibadahnya sendiri. Tapi, juga menodai ibadah dan masa depan anak-istrinya.
Seperti komentar Syekh 'Athiyah dalam Syarh al-Arbain an-Nawawiyah, "Orang tua seperti itu secara sengaja membuat ibadah dan doa anak-anaknya tertolak. Sebab, ia menjadikan tubuh mereka tumbuh dari harta yang haram." Wa Allahu a'lam “.
Kacepot Gulena Merah, Salah Lopot Nyoon Sapora.
Saad bin Abi Waqqash RA bertan...ya kepada Rasulullah SAW tentang rahasia agar ibadah dan doa-doanya cepat dikabulkan. Rasul SAW tidak mengajari Sa'ad tentang syarat, rukun, ataupun kekhusyukan. Rasul mengatakan, " Perbaikilah apa yang kamu makan, hai Sa'ad." (HR Thabrani).
Ada sindiran yang hendak disampaikan Rasulullah SAW lewat hadis di atas. Yaitu, bahwa kebanyakan manusia cenderung memperhatikan “kulit luar”, tapi lupa akan
hal-hal yang lebih urgen dan fundamental.
Setiap Muslim pasti mengetahui bahwa shalat atau haji mesti dilakukan dengan pakaian yang suci. Pakaian yang kotor akan menyebabkan ibadah tersebut tidak sah alias ditolak. Namun, betapa banyak di antara kaum Muslim yang lupa dan lalai bahwa makanan yang diperoleh dari cara-cara yang kotor juga akan berujung pada ditolaknya ibadah dan munajat kita.
Rasul SAW telah mengingatkan, " Demi Zat Yang menguasai diriku, jika seseorang mengonsumsi harta yang haram, maka tidak akan diterima amal ibadahnya selama 40 hari." (HR Thabrani).
Dalam hadis lain yang dinukil Ibnu Rajab al-Hanbali, Rasul SAW bersabda, "Barang siapa yang di dalam tubuhnya terdapat bagian yang tumbuh dari harta yang tidak halal, maka nerakalah tempat yang layak baginya."
Di sinilah terlihat dengan jelas, korelasi antara kualitas ibadah dan sumber penghasilan. Bahkan, karena ingin memastikan bahwa semua yang dikonsumsi berasal dari sumber yang halal, para Nabi dan Rasul menekuni suatu pekerjaan secara langsung untuk menghidupi diri dan keluarga mereka.
Nabi Daud adalah seorang pandai besi dan penjahit, Nabi Zakaria seorang tukang kayu, Rasulullah SAW adalah seorang pedagang, dan seterusnya. Demikian pula dengan para sahabat yang mulia; mayoritas kaum Muhajirin berprofesi sebagai pedagang, sementara kaum Anshar mengandalkan hidupnya dari pertanian.
Lebih dari itu, ketika seseorang bergelimang harta haram, dan ia menafkahi keluarganya dengan harta tersebut, sebenarnya ia tidak hanya menodai ibadahnya sendiri. Tapi, juga menodai ibadah dan masa depan anak-istrinya.
Seperti komentar Syekh 'Athiyah dalam Syarh al-Arbain an-Nawawiyah, "Orang tua seperti itu secara sengaja membuat ibadah dan doa anak-anaknya tertolak. Sebab, ia menjadikan tubuh mereka tumbuh dari harta yang haram." Wa Allahu a'lam “.
Kacepot Gulena Merah, Salah Lopot Nyoon Sapora.
Sejarah telah mencatat bahwa Ramadhan adalah titik balik perubahan manusia baik secara sosial, ekonomi, sosiologis dan budaya. Pencerahan spiritual ini diperoleh Nabi Muhammad dlm peristiwa Gua Hira dan telah mampu merombak tatanan sosial dlm kurun waktu 22 tahun, yakni kehidupan sosial yang egaliter dan menjunjung nilai keadilan.
Dalam kehidupan kita tentunya ada perubahan dalam nuansa religius lahir dan bathin. Kewajiban esensial puasa ini harus dirasakan makna tersirat dari ibadah yg kita lakukan yakni menjadi Insan Muttaqin. Dimensi Muttaqin ini harus berefek pada kesalehan individu dan sosial untuk menstranformasikan nilai dari makna ketaqwaan sebagai motivasi kesadaran beragama.
Kesalehan sosial ini tidak hanya ditandai dengan rukuk dan sujud, tetapi cucuran keringat praktis kehidupan sehari-hari sesuai dengan Firman Allah Q.S. Albaqarah 208. Perubahan sensitivitas dan kepedulian terhadap sesama yang lemah dan tindakan kritis dalam kontek penanggulangan kemiskinan.
Namun tidak banyak yang menyadari bahwa Bulan Puasa menjadi Polemik buat kaum Ibu rumah tangga dan Kaum Minoritas. Stage Model dan Nilai budget ekonomi terkadang menjadi nilai tersendiri dalam menjalankan makna puasa diatas. Kaum Ibu harus siap sebelum sahur dan berbuka. Kaum Minoritas harus mampu mengimbangi perubahan pola dan kebutuhan. Inilah Poin utama yang manjadi acuan saya mengurai dari sisi sosial.
Dalam kehidupan kita tentunya ada perubahan dalam nuansa religius lahir dan bathin. Kewajiban esensial puasa ini harus dirasakan makna tersirat dari ibadah yg kita lakukan yakni menjadi Insan Muttaqin. Dimensi Muttaqin ini harus berefek pada kesalehan individu dan sosial untuk menstranformasikan nilai dari makna ketaqwaan sebagai motivasi kesadaran beragama.
Kesalehan sosial ini tidak hanya ditandai dengan rukuk dan sujud, tetapi cucuran keringat praktis kehidupan sehari-hari sesuai dengan Firman Allah Q.S. Albaqarah 208. Perubahan sensitivitas dan kepedulian terhadap sesama yang lemah dan tindakan kritis dalam kontek penanggulangan kemiskinan.
Namun tidak banyak yang menyadari bahwa Bulan Puasa menjadi Polemik buat kaum Ibu rumah tangga dan Kaum Minoritas. Stage Model dan Nilai budget ekonomi terkadang menjadi nilai tersendiri dalam menjalankan makna puasa diatas. Kaum Ibu harus siap sebelum sahur dan berbuka. Kaum Minoritas harus mampu mengimbangi perubahan pola dan kebutuhan. Inilah Poin utama yang manjadi acuan saya mengurai dari sisi sosial.
Oleh : Mashudi, STP - Secara geografis Kabupaten Situbondo terletak diujung timur pulau Jawa bagian utara antara 113o30’–114o42’ Bujur Timur dan antara 7o35’–7o44’ Lintang selatan dengan temperatur tahunan 24,7oC–27,9oC. Daerah fisiknya memanjang dari barat ketimur sepajang pantai selat madura ± 150 Km dengan lebar rata-rata ± 11 Km. Luas wilayah Kabupaten Situbondo 1.638,50 Km2 yang terdiri dari 17 Kecamatan, 136 Desa, 4 Kelurahan, 660 Dusun/Lingkungan. Jumlah Luas tanah 163.850 Ha dengan penggunaan lahan sebesar 19% lahan sawa, 77% lahan kering dan 4% lainnya.
Jumlah penduduk tahun 2009 643.061 jiwa, yang terdiri dari 313.661 penduduk laki-laki dan 329.400 penduduk perempuan dengan sex rasion 95,22% dengan kepadatan penduduk sebesar 392/Km2, Jumlah penduduk per dokter 25.722, Jumlah penduduk per bidan 30.622, Jumlah murid per guru 11, Jumlah Koperasi aktif 252, Komposisi penduduk menurut agama adalah Islam 98,65%, Protestan 0,876%, Katolik 0,38%, Hindu 0,03%, Budha 0,05%.
Angka kemiskinan di Kabupaten Situbondo masih relatif tinggi. Menurut data BPS, tahun 2009 saja jumlah rumah tangga miskin mencapai 213.620 rumah tangga miskin. Kalaupun diprosentase jumlahnya 49,42% dari total rumah tangga yang ada. Trend yang terjadi sejak 2006, jumlah rumah tangga miskin di Situbondo fluktuatif, menurun walaupun volumenya masih kecil. Angka kemiskinan terbesar mendera penduduk yang berjenis kelamin perempuan yaitu mencapai 51%. Berdasarkan data inilah tersebut, maka kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat keterpurukan kelompok perempuan di berbagai sektor (pendidikan dan kesehatan).
Pendekatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan salah satu asumsi kondisi makro sosial yang digunakan dalam rancangan kebijakan Situbondo penanggulangan kemiskinan tahun 2011. IPM ini diturunkan dalam beberapa komponen, antara lain tingkat melek huruf orang dewasa, rata-rata lama bersekolah, dan tingkat daya beli per kapita. Penggunaan indikator IPM dipandang positif terutama menyangkut bagaimana pembangunan daerah dilihat secara lebih komprehensif.
Sampai akhir tahun 2009, rangking IPM Situbondo masih berada pada posisi ke 34 dari 38 Kota/Kabupaten di Jawa Timur. Untuk mengejar ketertinggalan demikian, yang terpenting adalah sejauh mana Pemerintah Kabupaten Situbondo mampu meningkatkan akses masyarakat dalam memperoleh pelayanan pendidikan dan kesehatan untuk mencapai kesejahteraannya (taraf hidup yang layak). Kesejahteraan itu sendiri hanya berpeluang dicapai kalau orang memiliki pendapatan dari pekerjaan yang ia terima. Adapun pekerjaan itu sendiri hanya tersedia bagi orang-orang yang mempunyai keterampilan yang bersumber dari jalur pendidikan formal maupun bukan formal.
Perkembangan IPM Situbondo 5 tahun terakhir memang terus mengalami peningkatan. Namun karena peningkatan tersebut tidak siginifikan, maka IPM Situbondo tetap saja tertinggal 7 (tujuh) digit dari rata-rata IPM Jatim. Kondisi demikian dikarenakan peningkatan IPM tersebut lebih sebagai hasil tren situasi kebijakan regional Jawa Timur.
Sampai Tahun 2009, sekitar 72,8% penduduk Situbondo umur 5 tahun ke atas masih berpendidikan SD/Sederajat, dan 27,12% berpendidikan di atas SMP. Komposisi demikian bisa berimplikasi pada rendahnya produktifitas sumberdaya manusia akibat rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Situbondo. Kesenjangan tingkat pendidikan demikian juga mencerminkan tingkat ketergantungan penduduk kurang produktif (less productive) terhadap penduduk produktif masih begitu tinggi. Sementara dikaitkan dengan peningkatan IPM, dengan pergerakan kemajuan akses pendidikan yang masih begitu lambat di Situbondo, tentu menjadi wajar bila IPM Situbondo begitu sulit untuk ditingkatkan secara progresif.
Melihat, masih begitu tingginya jumlah penduduk yang tidak pernah sekolah, tidak tamat SD maka beberapa kebijakan strategis sebagai bentuk penajaman Misi ke 2 dari Bupati 2010 – 2015: “Meningkatkan kualitas SDM melalui pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan serta peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat” hendaknya berangkat pada masalah kekinian seperti:
Komposit IPM berikutnya adalah kondisi indikator kesehatan. Terdapat dua indikator kesehatan yaitu Angka Harapan Hidup (AHH) dan Angka Kematin bayi (AKB). AHH sangat berkaitan erat dengan pembangunan sosial ekonomi suatu wilayah. Keberhasilan program kesehatan dan program sosial ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk di suatu wilayah. Bila pembangunan sosial ekonomi semakin baik, maka kecenderungannya AHH akan semakin tinggi, atau sebaliknya bila AHH lebih rendah mengindikasikan terjadinya kontradiksi pada beberapa sektor pembangunan sosial ekonomi suatu wilayah. Dalam lingkup wilayah Jawa Timur, terdapat 15 kabupaten yang angka harapan hidupnya masih di bawah 67,75 tahun, termasuk di dalamnya Kabupaten Situbondo. Seperti halnya AHH, Kabupaten Situbondo merupakan salah satu daerah di Jatim yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius karena AKB-nya masih di atas 50,00 per 1.000 kelahiran hidup.
Salah satu penyebab dari masih tingginya AKB adalah persentase penolong persalinan oleh tenaga medis yang masih cukup rendah. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan di bidang kesehatan perlu ditingkatkan. Angka Kematian Bayi dapat ditekan dengan penanganan yang intensif, baik itu dari faktor eksternal maupun internal. Adapun factor eksternal antara lain: keberadaan penolong persalinan yang representatif dan kemudahan akses ke tempat pelayanan kesehatan. Sedangkan faktor internal antara lain: melalui pola pemberian ASI dan imunisasi serta perhatian dan perlakuan rumah tangga terhadap bayi. Dalam kerangka kebijakan, Pemkab. Situbondo sangat penting untuk mempertimbangkan kebijakan;
AHH yang rendah dan tingginya AKB di Sitobondo harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan dan program sosial yang memadai, termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gizi, dan program pemberantasan kemiskinan.
Indeks daya beli masyarakat Situbondo dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi 2009 sebesar 5,01% dan tingkat inflasi 6,23%, maka bisa dipastikan bahwa Indeks daya beli mayarakat Situbondo termasuk rendah terutama akibat kenaikan harga barang dan jasa lebih tinggi daripada kenaikan pendapatan perkapita masyarakat.
Hal ini cukup jelas terkait dengan kondisi Situbondo dalam peta 4 kuadran kinerja makro ekonomi Jawa Timur di bawah ini. Kabupaten Situbondo sebagai daerah yang termasuk pada Kuadran III ditandai dengan pertumbuhan ekonomi dan PDRB perkapita yang lebih rendah dari rata-rata Jawa Timur. Hal ini terutama ditandai oleh struktur ekonominya masih didominasi oleh sektor pertanian dan mempunyai peranan dominan dalam pembentukan PDRB. Selama lima tahun terakhir, Kabupaten Situbondo terus berada pada Kuadran III ini. Tentu sebuah terobosan arah pembangunan yang signifikan perlu terus dicari untuk mengejar ketertinggalan daerah ini dengan daerah-daerah lain yang lebih maju di Jawa Timur.
Kebijakan terobosan (inovatif) mestinya berangkat dari titik pemahaman bahwa permasalahan tingginya tingkat kemiskinan maupun IPM yang masih rendah sangat terkait pula dengan tingkat kesenjangan pembangunan dan kesejahteraan di antara sektor maupun wilayah di Situbondo. Kesenjangan yang paling terlihat adalah tingkat produktifitas sektor primer (pertanian) dan sektor tersier (perdagangan/jasa), dan kesenjangan pendapatan perkapita antara penduduk pedesaan dan perkotaan. Kesemuanya akan berimplikasi pada perbedaan indeks komposit pembentuk IPM: tingkat pendidikan, kesehatan dan daya beli masyarakat.
Komposisi dan peranan masing-masing sektor kegiatan ekonomi terhadap pembentukan PDRB di Kabupaten Situbondo dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik dari perekonomian di Kabupaten Situbondo. Pada tahun 2009 sektor tersier (Perdagangan, Hotel dan Restoran, Pengangkutan dan Komunikasi, Keuangan, Persewaan, Jasa Perusahaan, dan Jasa-jasa) memiliki kontribusi terbesar terhadap PDRB yaitu sebesar 51,75%. Kontribusi sektor tersier ini didominasi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran. Selanjutnya, pemberi kotribusi terbesar kedua adalah sektor primer (Pertanian dan Penggalian) sebesar 34,30% dengan sumbangan terbesar dari sektor pertanian. Sedangkan sektor sekunder (Industri Pengolahan, Listrik, Gas dan Air Bersih dan Bangunan) merupakan penyumbang terkecil dibandingkan dua sektor lainnya yaitu sebesar 13,95% dengan penyumbang terbesar dari sektor industri pengolahan.
Berdasarkan penjelasan tersebut, sektor perdagangan, hotel dan restoran adalah sektor yang memberikan kontribusi paling besar bagi sektor tersier sekaligus kontributor terbesar bagi PDRB. Persentase kontribusi sektor tersier terhadap jumlah PDRB juga merupakan yang terbesar. Besarnya kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran ini dipengaruhi oleh kondisi dan potensi ekonomi yang kondusif bagi perdagangan. Kondisi ini sekilas menunjukkan adanya pergeseran struktur ekonomi di Kabupaten Situbondo dalam memberikan kontribusi terhadap PDRB.
Pergeseran ini berupa pergeseran dominasi dari sektor primer digantikan oleh sektor tersier, terutama sektor pertanian sebagai sektor primer digeser oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran yang merupakan sektor tersier. Di lain pihak, kenyataan menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian jauh lebih besar yaitu mencapai 52,52%. dibandingkan sektor perdagangan yang hanya menyerap tenaga kerja sebesar 14.77% maka mengakibatkan distribusi pendapatan di sektor pertanian menjadi lebih kecil dibandingkan pada sektor perdagangan, hotel dan restoran.
Mengacu pada besarnya kontribusi sektor pertanian dalam PDRB Situbondo dimana dipandang sebagai sektor paling strategis dalam peningkatan perekonomian daerah, tentu penting dipertimbangkan suatu intervensi anggaran daerah dalam skema kebijakan antara lain;
Jumlah penduduk tahun 2009 643.061 jiwa, yang terdiri dari 313.661 penduduk laki-laki dan 329.400 penduduk perempuan dengan sex rasion 95,22% dengan kepadatan penduduk sebesar 392/Km2, Jumlah penduduk per dokter 25.722, Jumlah penduduk per bidan 30.622, Jumlah murid per guru 11, Jumlah Koperasi aktif 252, Komposisi penduduk menurut agama adalah Islam 98,65%, Protestan 0,876%, Katolik 0,38%, Hindu 0,03%, Budha 0,05%.
Angka kemiskinan di Kabupaten Situbondo masih relatif tinggi. Menurut data BPS, tahun 2009 saja jumlah rumah tangga miskin mencapai 213.620 rumah tangga miskin. Kalaupun diprosentase jumlahnya 49,42% dari total rumah tangga yang ada. Trend yang terjadi sejak 2006, jumlah rumah tangga miskin di Situbondo fluktuatif, menurun walaupun volumenya masih kecil. Angka kemiskinan terbesar mendera penduduk yang berjenis kelamin perempuan yaitu mencapai 51%. Berdasarkan data inilah tersebut, maka kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat keterpurukan kelompok perempuan di berbagai sektor (pendidikan dan kesehatan).
Pendekatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan salah satu asumsi kondisi makro sosial yang digunakan dalam rancangan kebijakan Situbondo penanggulangan kemiskinan tahun 2011. IPM ini diturunkan dalam beberapa komponen, antara lain tingkat melek huruf orang dewasa, rata-rata lama bersekolah, dan tingkat daya beli per kapita. Penggunaan indikator IPM dipandang positif terutama menyangkut bagaimana pembangunan daerah dilihat secara lebih komprehensif.
Sampai akhir tahun 2009, rangking IPM Situbondo masih berada pada posisi ke 34 dari 38 Kota/Kabupaten di Jawa Timur. Untuk mengejar ketertinggalan demikian, yang terpenting adalah sejauh mana Pemerintah Kabupaten Situbondo mampu meningkatkan akses masyarakat dalam memperoleh pelayanan pendidikan dan kesehatan untuk mencapai kesejahteraannya (taraf hidup yang layak). Kesejahteraan itu sendiri hanya berpeluang dicapai kalau orang memiliki pendapatan dari pekerjaan yang ia terima. Adapun pekerjaan itu sendiri hanya tersedia bagi orang-orang yang mempunyai keterampilan yang bersumber dari jalur pendidikan formal maupun bukan formal.
Perkembangan IPM Situbondo 5 tahun terakhir memang terus mengalami peningkatan. Namun karena peningkatan tersebut tidak siginifikan, maka IPM Situbondo tetap saja tertinggal 7 (tujuh) digit dari rata-rata IPM Jatim. Kondisi demikian dikarenakan peningkatan IPM tersebut lebih sebagai hasil tren situasi kebijakan regional Jawa Timur.
Sampai Tahun 2009, sekitar 72,8% penduduk Situbondo umur 5 tahun ke atas masih berpendidikan SD/Sederajat, dan 27,12% berpendidikan di atas SMP. Komposisi demikian bisa berimplikasi pada rendahnya produktifitas sumberdaya manusia akibat rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Situbondo. Kesenjangan tingkat pendidikan demikian juga mencerminkan tingkat ketergantungan penduduk kurang produktif (less productive) terhadap penduduk produktif masih begitu tinggi. Sementara dikaitkan dengan peningkatan IPM, dengan pergerakan kemajuan akses pendidikan yang masih begitu lambat di Situbondo, tentu menjadi wajar bila IPM Situbondo begitu sulit untuk ditingkatkan secara progresif.
Melihat, masih begitu tingginya jumlah penduduk yang tidak pernah sekolah, tidak tamat SD maka beberapa kebijakan strategis sebagai bentuk penajaman Misi ke 2 dari Bupati 2010 – 2015: “Meningkatkan kualitas SDM melalui pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan serta peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat” hendaknya berangkat pada masalah kekinian seperti:
- Mengurangi proyekisasi buku pelajaran (pelajaran dari masalah BOS buku)
- Efisiensi bantuan, karena besaran tidak dipukul rata antara sekolah ’kaya” dan sekolah ”miskin.’
- Mengurangi kecenderunagn bias urban. Sekolah kota dan pinggir jalan besar mesti lebih baik tampilannya.
- Menghapus stigma bahwa Sekolah ndeso mutunya jauh dibawah sekolah kuto.
- Memacu prestasi guru-guru daerah terpencil karena tidak merasa ’dipinggirkan”.
Komposit IPM berikutnya adalah kondisi indikator kesehatan. Terdapat dua indikator kesehatan yaitu Angka Harapan Hidup (AHH) dan Angka Kematin bayi (AKB). AHH sangat berkaitan erat dengan pembangunan sosial ekonomi suatu wilayah. Keberhasilan program kesehatan dan program sosial ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk di suatu wilayah. Bila pembangunan sosial ekonomi semakin baik, maka kecenderungannya AHH akan semakin tinggi, atau sebaliknya bila AHH lebih rendah mengindikasikan terjadinya kontradiksi pada beberapa sektor pembangunan sosial ekonomi suatu wilayah. Dalam lingkup wilayah Jawa Timur, terdapat 15 kabupaten yang angka harapan hidupnya masih di bawah 67,75 tahun, termasuk di dalamnya Kabupaten Situbondo. Seperti halnya AHH, Kabupaten Situbondo merupakan salah satu daerah di Jatim yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius karena AKB-nya masih di atas 50,00 per 1.000 kelahiran hidup.
Salah satu penyebab dari masih tingginya AKB adalah persentase penolong persalinan oleh tenaga medis yang masih cukup rendah. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan di bidang kesehatan perlu ditingkatkan. Angka Kematian Bayi dapat ditekan dengan penanganan yang intensif, baik itu dari faktor eksternal maupun internal. Adapun factor eksternal antara lain: keberadaan penolong persalinan yang representatif dan kemudahan akses ke tempat pelayanan kesehatan. Sedangkan faktor internal antara lain: melalui pola pemberian ASI dan imunisasi serta perhatian dan perlakuan rumah tangga terhadap bayi. Dalam kerangka kebijakan, Pemkab. Situbondo sangat penting untuk mempertimbangkan kebijakan;
- Peningkatan penolong persalinan oleh tenaga medis,
- Peningkatan efektifitas program KB,
- Peningkatan pelayanan dan penyediaan fasilitas kesehatan,
- Peningkatan pengetahuan masyarakat masyarakat akan kesehatan.
AHH yang rendah dan tingginya AKB di Sitobondo harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan dan program sosial yang memadai, termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gizi, dan program pemberantasan kemiskinan.
Indeks daya beli masyarakat Situbondo dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi 2009 sebesar 5,01% dan tingkat inflasi 6,23%, maka bisa dipastikan bahwa Indeks daya beli mayarakat Situbondo termasuk rendah terutama akibat kenaikan harga barang dan jasa lebih tinggi daripada kenaikan pendapatan perkapita masyarakat.
Hal ini cukup jelas terkait dengan kondisi Situbondo dalam peta 4 kuadran kinerja makro ekonomi Jawa Timur di bawah ini. Kabupaten Situbondo sebagai daerah yang termasuk pada Kuadran III ditandai dengan pertumbuhan ekonomi dan PDRB perkapita yang lebih rendah dari rata-rata Jawa Timur. Hal ini terutama ditandai oleh struktur ekonominya masih didominasi oleh sektor pertanian dan mempunyai peranan dominan dalam pembentukan PDRB. Selama lima tahun terakhir, Kabupaten Situbondo terus berada pada Kuadran III ini. Tentu sebuah terobosan arah pembangunan yang signifikan perlu terus dicari untuk mengejar ketertinggalan daerah ini dengan daerah-daerah lain yang lebih maju di Jawa Timur.
Kebijakan terobosan (inovatif) mestinya berangkat dari titik pemahaman bahwa permasalahan tingginya tingkat kemiskinan maupun IPM yang masih rendah sangat terkait pula dengan tingkat kesenjangan pembangunan dan kesejahteraan di antara sektor maupun wilayah di Situbondo. Kesenjangan yang paling terlihat adalah tingkat produktifitas sektor primer (pertanian) dan sektor tersier (perdagangan/jasa), dan kesenjangan pendapatan perkapita antara penduduk pedesaan dan perkotaan. Kesemuanya akan berimplikasi pada perbedaan indeks komposit pembentuk IPM: tingkat pendidikan, kesehatan dan daya beli masyarakat.
Komposisi dan peranan masing-masing sektor kegiatan ekonomi terhadap pembentukan PDRB di Kabupaten Situbondo dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik dari perekonomian di Kabupaten Situbondo. Pada tahun 2009 sektor tersier (Perdagangan, Hotel dan Restoran, Pengangkutan dan Komunikasi, Keuangan, Persewaan, Jasa Perusahaan, dan Jasa-jasa) memiliki kontribusi terbesar terhadap PDRB yaitu sebesar 51,75%. Kontribusi sektor tersier ini didominasi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran. Selanjutnya, pemberi kotribusi terbesar kedua adalah sektor primer (Pertanian dan Penggalian) sebesar 34,30% dengan sumbangan terbesar dari sektor pertanian. Sedangkan sektor sekunder (Industri Pengolahan, Listrik, Gas dan Air Bersih dan Bangunan) merupakan penyumbang terkecil dibandingkan dua sektor lainnya yaitu sebesar 13,95% dengan penyumbang terbesar dari sektor industri pengolahan.
Berdasarkan penjelasan tersebut, sektor perdagangan, hotel dan restoran adalah sektor yang memberikan kontribusi paling besar bagi sektor tersier sekaligus kontributor terbesar bagi PDRB. Persentase kontribusi sektor tersier terhadap jumlah PDRB juga merupakan yang terbesar. Besarnya kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran ini dipengaruhi oleh kondisi dan potensi ekonomi yang kondusif bagi perdagangan. Kondisi ini sekilas menunjukkan adanya pergeseran struktur ekonomi di Kabupaten Situbondo dalam memberikan kontribusi terhadap PDRB.
Pergeseran ini berupa pergeseran dominasi dari sektor primer digantikan oleh sektor tersier, terutama sektor pertanian sebagai sektor primer digeser oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran yang merupakan sektor tersier. Di lain pihak, kenyataan menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian jauh lebih besar yaitu mencapai 52,52%. dibandingkan sektor perdagangan yang hanya menyerap tenaga kerja sebesar 14.77% maka mengakibatkan distribusi pendapatan di sektor pertanian menjadi lebih kecil dibandingkan pada sektor perdagangan, hotel dan restoran.
Mengacu pada besarnya kontribusi sektor pertanian dalam PDRB Situbondo dimana dipandang sebagai sektor paling strategis dalam peningkatan perekonomian daerah, tentu penting dipertimbangkan suatu intervensi anggaran daerah dalam skema kebijakan antara lain;
- Revitalisasi lumbung pangan desa dengan alokasi dana bergulir revolving fund yang mampu menyalurkan kredit permodalan usaha tani.
- Sertifikasi massal yang pembiayaannya mendapatkan subsidi dari Pemerintah Kabupaten. Untuk apa? Bila petani memiliki sertfifkat tanah, setidaknya mereka telah memiliki jaminan (agunan) untuk bisa mengakses modal usaha dari perbankan.
- Penyediaan modal usaha kecil/mikro tanpa bunga, yang langsung diterimakan dalam bentuk alat usaha/kerja yang dibutuhkan.
- Kenaikan anggaran belanja daerah, khususnya untuk infrastruktur transportasi pedesaan.
Oleh : Bahrudin Siregar - Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah bagi junjungan kita Nabi Muhammad, kepada keluarganya, para sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Para pembaca KARak’S Besoeki yang dirahmati Allah Ta’alaa, wabilkhusus Guru Spirituil saya Ke No’e yang selalu saya ta’dzimi, perkenankanlah saya ingin menyampaikan beberapa hal berkenaan dengan ibadah Puasa Ramadhan, yaitu tanda puasa kita diterima oleh Allah SWT.
Berdasarkan Hadis Riwayat Ahmad dari Jabir Ahmad, dari Utsman bin Abil As : “Puasa adalah perisai seorang hamba, perisai dari api neraka”.
Para pembaca yang budiman, betapa banyak orang didalam bulan RAMADHAN ini hanya mendapatkan lapar dan sia - sia belaka dan tidak mendapatkan pahala dari ALLAH Tuhan Maha Esa, mengapa demikian....?
TANDA-TANDA PUASA YANG DITERIMA ALLAH
Para pembaca KARak’S Besoeki yang dirahmati Allah Ta’alaa, apakah tandanya puasa seorang muslim yang diterima oleh Allah? Tandanya adalah segala perilaku Ia menjadi lebih baik dibandingkan sebelum bulan Ramadhan maupun setelah melewatinya. Dengan kata lain, segala amalan di bulan suci itu membekas pada karakternya dalam kehidupan sehari-hari. Tetap rajin membaca Qur’an, tadarusan, berinfaq, banyak sholat sunah, dll. Ia tidak lagi suka menggunjing, memfitnah, berbohong, mencuri, menghasut, atau segala perbuatan buruk lainnya.
Manusia pasti tak ada yang bisa berperilaku sempurna, tapi setidaknya bisa mengurangi hal-hal yang tercela dan terus berusaha berlomba-lomba dalam beramal kebajikan.
Adapun sebagian dari tanda – tanda Puasa kita diterima Allah antara lain :
Jika anda merasa damai dan bahgia, maka ia 30 hari yg sukses.
Mudah-mudahan Allah Ta’alaa menerima semua amalan kita terutama puasa, qiyamul lail, tilawah, sadaqah kita di bulan Ramadhan.
“Ya Allah, terimalah puasa kami, ampuni segala kesalahan kami, lindungi kami semua dari siksa api neraka, bimbinglah selalu agar kami berada di jalan yang lurus dan senantiasa istiqomah di sisa hidup yang tak lama ini.” Amin.
Demikian KULTUM hari kedua – ketiga bag. pertama ini saya sampaikan, mudah – mudahan ada guna dan manfaatnya, mohon maaf bila ada tutur kata yang salah dan kurang berkenan .
Para pembaca KARak’S Besoeki yang dirahmati Allah Ta’alaa, wabilkhusus Guru Spirituil saya Ke No’e yang selalu saya ta’dzimi, perkenankanlah saya ingin menyampaikan beberapa hal berkenaan dengan ibadah Puasa Ramadhan, yaitu tanda puasa kita diterima oleh Allah SWT.
Berdasarkan Hadis Riwayat Ahmad dari Jabir Ahmad, dari Utsman bin Abil As : “Puasa adalah perisai seorang hamba, perisai dari api neraka”.
Para pembaca yang budiman, betapa banyak orang didalam bulan RAMADHAN ini hanya mendapatkan lapar dan sia - sia belaka dan tidak mendapatkan pahala dari ALLAH Tuhan Maha Esa, mengapa demikian....?
- Mereka mengamalkan Puasa tanpa mengetahui ilmunya terlebih dahulu ( belum pernah melihat atau mengkaji dalil-dalil sumber ilmunya langsung ) sehingga hanya berdasarkan kata - katanya , atau menurut - menurut , atau mencontoh , atau ikut ikutan saja
- Tidak di dasari keimanan dan niat karena ALLAH semata - mata mencari ridhonya, sehingga Puasanya betul - betul maksimal karena memanfaatkan semaksimal mungkin waktunya untuk memperbanyak Ibadah di karenakan sadar akan lipatan pahala di bulan Ramadhan,dan menghindari sesuatu yang tidak bermanfaat seperti, main game, nonton film, ( yang sifatnya bukan kegiatan ibadah yang di contohkan Rasulullah dalam hadist ) atau niatnya karena malu sama mertua, tetangga dan lain lain .
- Menghambur-hamburkan harta dengan bermain petasan - mencari hiburan bukannya memperbanyak sedekah infak dll .
- Tidak menjaga waktu- wAktu Shalat dan tidak melaksanakan Shalat Tarawih dan Shalat Witir setiap hari .
- Tidak memperbanyak Tadarrus Al-Quran .
TANDA-TANDA PUASA YANG DITERIMA ALLAH
Para pembaca KARak’S Besoeki yang dirahmati Allah Ta’alaa, apakah tandanya puasa seorang muslim yang diterima oleh Allah? Tandanya adalah segala perilaku Ia menjadi lebih baik dibandingkan sebelum bulan Ramadhan maupun setelah melewatinya. Dengan kata lain, segala amalan di bulan suci itu membekas pada karakternya dalam kehidupan sehari-hari. Tetap rajin membaca Qur’an, tadarusan, berinfaq, banyak sholat sunah, dll. Ia tidak lagi suka menggunjing, memfitnah, berbohong, mencuri, menghasut, atau segala perbuatan buruk lainnya.
Manusia pasti tak ada yang bisa berperilaku sempurna, tapi setidaknya bisa mengurangi hal-hal yang tercela dan terus berusaha berlomba-lomba dalam beramal kebajikan.
Adapun sebagian dari tanda – tanda Puasa kita diterima Allah antara lain :
- Jiwanya merasa lebih bersih dan ikhlas
- Fizikal anda bertambah sehat dan jiwa anda amat bahgia selepas 30 hari berpuasa.
Jika anda merasa damai dan bahgia, maka ia 30 hari yg sukses.
- Puasa melakukan suatu kejutan dan perubahan kepada rutin dan kebiasaan seseorang dan memasukkan jatidiri atau membina perisai.
- Kendurnya gelora seksual seseorang.
- Tajamnya perasaan kita terhadap nikmat Allah dan kita menjadi lebih bersyukur.
- Gabungan dari semua itu, puasa membawa puasawan menjadi lebih TAQWA. Dalil: QS 2:185 (agar kalian bertaqwa)
Mudah-mudahan Allah Ta’alaa menerima semua amalan kita terutama puasa, qiyamul lail, tilawah, sadaqah kita di bulan Ramadhan.
“Ya Allah, terimalah puasa kami, ampuni segala kesalahan kami, lindungi kami semua dari siksa api neraka, bimbinglah selalu agar kami berada di jalan yang lurus dan senantiasa istiqomah di sisa hidup yang tak lama ini.” Amin.
Demikian KULTUM hari kedua – ketiga bag. pertama ini saya sampaikan, mudah – mudahan ada guna dan manfaatnya, mohon maaf bila ada tutur kata yang salah dan kurang berkenan .
Alhamdulillah Kita telah melewati beberapa hari dengan berpuasa. Semoga puasa yang kita lakukan sudah sesuai dengan tuntunan Syariat. Sehingga puasa kita akan memperoleh hasil yang diharapkan.
Kita mengenal kata Breakfast untuk sarapan pagi. Kata ini berarti sama dengan berbuka. Sedangkan yang dimaksud dengan Fasting/puasa adalah tidak makan makanan yang berat/main course. Sejak makan malam sampai pagi. Tujuannya adalah semata-mata untuk kesehatan yaitu untuk memberi kesempatan kepada proses metabolisme tubuh berjalan optimal. Ada juga keyakinan lain yang puasanya hanya pada jenis makanan tertentu yang menjadi kesukukaan yang intinya adalah untuk menahan keinginan/nafsu.
Jadi Perintah puasa itu dalam konteks Islam adalah termasuk dalam rukun Islam. JIka diamati, maka semua perintah dalam Rukun Islam adalah kegitan Fisik. Dan perintah ini juga harus dilaksanakan tanpa perlu adanya kesiapan secara psikis. Sehingga perlulah dilaksanakan tanpa perlu adanya pertimbangan masuk akal atau tidak atau bermanfaat atau tidak. Just Do It.
Pertimbangan logika yang terjadi kemudian hanyalah factor penguat akan kebenaran. Hal ini bukanlah hakikat dari perintah itu sendiri.
Selamat menunaikan ibadah puasa Insya Allah kita akan menjadi Hamba Allah yang bertakwa.
- Puasa Dalam Islam
- Puasa dalam Perspektif Kesehatan
Kita mengenal kata Breakfast untuk sarapan pagi. Kata ini berarti sama dengan berbuka. Sedangkan yang dimaksud dengan Fasting/puasa adalah tidak makan makanan yang berat/main course. Sejak makan malam sampai pagi. Tujuannya adalah semata-mata untuk kesehatan yaitu untuk memberi kesempatan kepada proses metabolisme tubuh berjalan optimal. Ada juga keyakinan lain yang puasanya hanya pada jenis makanan tertentu yang menjadi kesukukaan yang intinya adalah untuk menahan keinginan/nafsu.
Jadi Perintah puasa itu dalam konteks Islam adalah termasuk dalam rukun Islam. JIka diamati, maka semua perintah dalam Rukun Islam adalah kegitan Fisik. Dan perintah ini juga harus dilaksanakan tanpa perlu adanya kesiapan secara psikis. Sehingga perlulah dilaksanakan tanpa perlu adanya pertimbangan masuk akal atau tidak atau bermanfaat atau tidak. Just Do It.
Pertimbangan logika yang terjadi kemudian hanyalah factor penguat akan kebenaran. Hal ini bukanlah hakikat dari perintah itu sendiri.
Selamat menunaikan ibadah puasa Insya Allah kita akan menjadi Hamba Allah yang bertakwa.




